Follow by Email

Senin, 19 Maret 2012

Jurnal Infusa dyta



JURNAL PRAKTIKUM FARMASETIKA DASAR

INFUSA (INFUS)




NAMA                           : LIA ARDYTA
STAMBUK                             : F1F1 10 059
KELOMPOK                 : III
KELAS                          : A
DOSEN PEMBIMBING         : WAHYUNI, S.Si, Apt.




LABORATORIUM FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2011
I.       Landasan Teori
Infusa adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara mengekstrak sismplisia nabati dengan air pada suhu 90o C selaam 10-15 menit yang dihitung sejak air mendidih. Jika bahan yang digunakan untuk membuat dekok berasal dari bahan bertekstur keras, bahan yang digunakan dalam infusa berasal dari bahan yang lunak (simplisi, daun dan bunga) seperti daun kumis kucing, daun meniran, daun pegagan, bunga mawar, bunga melati, dan daun sambiloto. Cara membuat infusa hampir sama dengan merebus teh. Siapkan simplisia kering 25-30 gram atau bahan segar 75-90 gram. Bahan tersebut direbus dalam air mendidih 500 cc selaam 15b menit atau sampai volumenya menjadi 250 cc. Setelah direbus airnya disaring dan hasil penyaringan ini disebut infusa.
Simplisia adalah bahan baku alamiah yang digunakan untuk membuat ramuan obat tradisional yang belum mengalami pengolahan apa pun kecuali proses pengeringan. Ditinjau dari asalnya, simplisia digolongkan menjadi simplisian nabati dan simplisia hewani. Simplisia hewani berasal dari hewan, baik yang masih utuh, organ-organnya, maupun zat-zat yang dikandungnya yang berguna sebagai obat dan belum berupa zat kimia murni. Simplisia nabati berasal dari tanaman, baik yang masih utuh, bagian-bagiannya, maupun zat-zat nabati yang dipisahkan dari tanamannya dan belum berupa zat kimia murni. Sumber simplisia nabati sampai saat ini berupa tumbuhan liar dan tanaman budi daya.
Teknik infusa mempunyai beberapa keuntungan bila dibandingkan dengan teknik pembuatan ekstrak yaitu karena teknik infusa lebih murah, lebih cepat, dan alat serta caranya sederhana. Sedangkan dalam pembuatan ekstrak, kandungan dari bahan tumbuhan dan pelarut yang paling tepat untuk masing-masing kandungan harus diketahui lebih dahulu. Dengan zat pelarut yang tepat, zat aktif yang diinginkan akan terpisah dari bahan aslinya dan bercampur dengan pelarut yang digunakan. Selanjutnya pemisahan zat aktif dari pelarutnya dengan lebih mudah dilakukan untuk memperoleh zat aktif yang benar-benar murni. Metodenya dikenal dengan nama Sochlet, yaitu dengan menggunakan alat percolator dan countercurrent screw extractor. Dari sini jelas terlihat bahwa metode pembuatan ekstrak lebih rumit dan mahal dibandingkan dengan metode pembuatan infusa. (Santoso, 1993)
Hal-hal yang harus diperhatikan untuk membuat sediaan infusa adalah:
1.    Jumlah simplisia
Kecuali dinyatakan lain, infus yang mengandung bukan bahan berkhasiat keras dibuat dengan menggunakan 10% simplisia.
2.    Derajat halus simplisia
Yang digunakan untuk infus harus mempunyai derajat halus sebagai berikut:
Serbuk (5/8)
Akar manis, daun kumis kucing, daun sirih, daun sena
Serbuk (8/10)
Dringo, kelembak
Serbuk (10/22)
Laos, akar valerian, temulawak, jahe
Serbuk (22/60)
Kulit kuni, akar ipeka, sekale kornutum
Serbuk (85/120)
Daun digitalis

3.    Banyaknya ekstra air
Umumnya untuk membuat sediaan infusa diperlukan penambahan air sebanayak 2 kali berat simplisia. Air ekstra ini perlu karena simplisia yang kita gunakan pada umumnya dalam keadaan kering.
4.    Cara menyerkai
Pada umumya infusa diserkai selagi panas, kecuali infusa simplisia yang mengandung minyak aktsiri, diserkai setelah dingin.
5.    Penambahan bahan-bahan lain
Pada pembuatan infus kulit kina ditambahkan asam sitrat 10% dari bobot bahan berkhasiat dan pada pembuatan infus simplisia yang mengandung glikosida antrakinon, ditambahkan natrium karbonat 10% dari bobot simplisia.



II.    Resep
A.    Resep Asli
R/        Inf. Fol. Orthosipon          100             Hexamini                            5  
S.t.d.d.C.I

Pro :  Ny. Suluh

 





B.     Resep Lengkap
dr. Wahyuni
Jalan Pelangi No. 17 Kendari
SIP: 20/SP/2009

                                         24 Mei 2011
R/        Inf. Fol. Orthosipon          100             Hexamini                            5  
S.t.d.d.C.I


Pro       : Ny. Suluh
Umur   : 40 tahun
Alamat            : Jln. Beling

 











           
Keterangan:
R/                                : recipe, ambillah
s.t.d.d.C.I                    : signa ter de die cochlear 1
                                      tandai tiga kali sehari 15 ml
pro                               : untuk





C.    Uraian Bahan
Orthosiphonis Folium
1.      Nama Latin            : Orthosiphonis Folium.
2.      Pemerian                 : Bau aromatik lemah, rasa agak pahit dan sepat.
3.      Kelarutan                : Larut dalam air tidak kurang dari 30%.
4.      Penyimpanan          : Dalam wadah tertutup bai, terlindung dari cahaya.
5.      Khasiat                   : Diuretikum.
Hexamine
1.      Nama Latin                        : Hexaminum
2.      BM                         : 140,19
3.      Rumus Kimia         : C6H12N4
4.      Rumus Molekul      :                       N
CH2
N
                                                                                        CH2    CH2
                                                                                   N                 N

5.      Pemerian                 : hablur mengkilap tidak berwarna atau serbuk putih
 tidak berbau, rasa membakar dan manis kemudian agak pahit. Jika dipaaskan pada suhu lebih kurang 260o menyublin.
6.      Kelarutan                : Larut dalam 1,5 bagian air, dalam 12,5ml etanol
(95%) P dan dalam lebih kurang 10 bagian kloroform P.
7.      Penyimpanan          : dalam wadah tertutup baik.
8.      Khasiat                   : Antiseptikum saluran kemih.
D.    Perhitungan dan Penimbangan
1). Perhitungan Bahan
0,5
100
a.  Orthosiphonis Infusum
Orthosiphonis Fol. = 0,5 bagian =           x 100 g = 0,5 gram = 500mg
Aqua Destillata = 100 g – 0,5 g = 99,5 g = 99,5 ml
b.  Heksamin
Heksamin = 5 gram
2). Dosis Maksimum
DM Heksamin = 1 g/4 g
Sekali pakai = 15/100 x 5 gram = 0,75 gram < 1 gram (TOD)
Sehari           = 3 x 0,75 gram = 2,25 gram < 4 gram (TOD)
3). Penimbangan Bahan
Untuk membuat infus dengan resep diatas, maka perlu dilakukan penimbangan 500 mg Orthosiphonis Folium (Daun Kumis Kucing) dan 5 gram Heksamin. Aqua Destillata yang diperlukan sebesar 99,5 ml untuk melarutkan bahan obat.
E.     Cara Kerja
1.         Timbang bahan-bahannya.
2.         Folio Orthosiphon dipotong-potong, lalu dimasukkan kedalam panei infusa dan ditambah aqua yang dibutuhkan, dikurangkan untuk melarutkan hexamine. Panci infuse dipanaskan, setelah suhi mencapai 90oC dibiarkan selama 30 menit. Kemudian didinginka, massa disaring kain kasa sampai mendapatkan infuse sberat yang diminta, masukkan botol.
3.         Larutkan hexamine dengan aqua, masukkkan botol.
4.         Botol ditutup dan diberi etiket.
F.     Etiket
APOTEK UNHALU FARMA
Jalan Kambu No. 211 Kendari
Apoteker: Dwi Rahayu., S.Farn., Apt.
SIK: 12/SK/2007

                                    Tgl. 23 Mei 2011
No. 11                                    
Pro: Ny. Suluh             Tablet
                                    Kapsul
3 x 1                     Bungkus
                                                Sendok teh/makan
Sebelum/Sesudah Makan
 









G.  Khasiat Obat

1.    Orthosiphonis Folium sebagai diuretikum.
2.    Hexamine sebagai antiseptikum saluran kemih.











III. Pembahasan
Pada praktikum pembuatan infusa, daun kumis kucing mempunyai bagian yang keras sebanyak 0,5 % bagian. Mula – mula kumis kucing digunting – gunting terlebih dahulu baru kemudian ditimbang. Alasan mengapa kumis kucing digunting terlebih dahulu, agar mempercepat zat aktif pada tanaman deuritik, karena dengan memotong kita telah merusak dinding selulosanya. Pada Daun kumis kucing tersebut mengandung kadar kalium (boorsma) yang cukup tinggi. Ia juga mengandung glikosida orthosiphonin. Setelah itu dilakukan penimbangan daun kumis kucing sebanyak 500 mg, karena dilakukan 2 kali jadi yang ditimbang yaitu sebanyak 1 gram. Setelah itu dilakukan pemanasan pada air sebanyak 100 ml di dalam panci dimasukkan daun kumis kucing tersebut  hingga suhunya mencapai 90o. setelah itu diangkat dan dilakukan penyaringan dalam keadaan panas, kecuali infusa yang mengandung minyak atsiri disaring dalam keadaan dingin. Jika terdapat tanaman yang mengandung lendir, tidak diperbolehkan untuk melakukan penyaringan. Lalu dimasukkan ke dalam botol, dan siap untuk diberikan kepada pasien.
            Pada umumnya kumis kucing dipergunakan dalama bentuk simplisia sesuai dengan khasiat fitoterapi yang tercantum dalam Materia Madika Indonesia yakni sebagai obat untuk memperlancar pengeluaran air seni. Diketahui juga bahwa khasiat dari daun kumis kucing itu sendiri adalah sebagai   Diuretikum dan manfaat lainnya yang telah diteliti  adalah untuk mengobati  infeksi kandung kemih,  kencing manis, tekanan darah tinggi, rematik,  menghancurkan batu ginjal dan menurunkan kadar kolesterol.







III.  Daftar Pustaka
Anief, Mohammad. 2003. Farmasetika. UGM Press : Yogyakarta.
Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan: Jakarta.
Syamsuni, H. A. 2006. Ilmu Resep. Anggota IKAPI: Jakarta.
Syarifudin, Arief. 2009. Sediaan Obat. (Online). Diakses pada 01 April 2011
Tjay, T.H. dan Kirana Rardja. 2007. Obat-Obat Penting. PT Elex Media Komputendo: Jakarta.
Santoso, S. 1993. Perkembangan Obat Tradisional Dalam Ilmu Kedokteran di Indonesia dan Upaya Pengembangannya Sebagai Obat Alternatif, Jakarta: FKUI.
Hariana, H.Arief.. 2008. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Jakarta: Penebar Swadaya.
Dalimartha Setiawan, 2003, ATLAS Tumbuhan Obat Indonesia, Jilid 2, Trubus Agriwidya, hal. 126-130
     anonym, 1980, Materi Medika Indonesia, Jilid 4, DEPKES RI, hal 85-91.


     


2 komentar:

  1. saya mahasiswa dari Universitas Islam Indonesia
    Artikel yang menarik, bisa buat referensi ini ..
    terimakasih ya infonya :)

    BalasHapus
  2. Mau tanya, itu cara perhitungan dan penimbangannya gimana ya

    BalasHapus