Sabtu, 09 Juni 2012

Triturat


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Profesi farmasi merupakan profesi yang berhubungan dengan seni dan ilmu dalam penyediaan (pengolahan) bahan sumber alam bahan sintesis yang cocok dan menyenangkan untuk didistribusikan dan digunakan dalam pengobatan dan pencegahan suatu penyakit. Farmasi meliputi pengetahuan tentang indentifikasi, kombinasi, analisa dan standarisasi obat dan pengobatan termasuk pula sifat – sifat obat dan distribusinya yang aman dan pula dalam penggunaannya baik dalam penyerahan obat atas dasar dengan resep dokter, dokter gigi, dan dokter hewan maupun pada penjualan bebas.
Pemberian obat melalui mulut merupakan cara pemberian yang paling utama untuk memperoleh efek sistemik. Dari obat-obat yang diberikan melalui mulut, maka sediaan padat merupakan bentuk yang paling disenangi.
Tablet adalah sediaan padat yang mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Berdasarkan metode pembuatan dapat digolongkan sebagai tablet cetak dan  tablet kempa ( FI IV,1995). Istilah “gula” merupakan istilah generik yang dapat memberi kemungkinan memberikan berbagai bahan mentah. Akan tetapi, salut gula terutama menggunakan sukrosa (gula pasir) karena sukrosa merupakan satu dari sedikit bahan yang dapat menghasilkan penyalut yang licin, bermutu tinggi, pada dasarnya kering dan bebas lekat pada akhir proses.
Tablet merupakan bahan obat dalam bentuk sediaan padat yang biasanya dibuat dengan penambahan bahan tambahan farmasetika yang sesuai. Tablet-tablet dapat berbeda-beda dala ukuran, bentuk, berat, kekerasan, ketebalan, daya hancurnya dan metode pembuatannya. Kebanyakan tablet digunakan pada pemberian obat-obat secara oral, dan kebanyakan dari obat ini dibuat dengan penambahan zat warna, zat pemberi rasa dan lapisan-lapisan dalam berbagai jenis ( Ansel, 1989 ).  
Zat tambahan yang digunakan dalam pembuatan tablet dapat berfungsi sebagai zat pengisi, zat pengembang, zat pengikat, zat pelicin, zat pembasah. Zat-zat yang digunakan sebagai penyalut biasanya diterapkan sebagai suatu larutan atau suspesi dalam kondisi dengan pembawa yang mudah meguap ( Anief,1997).
Dibandingkan kapsul tablet mempunyai beberapa keuntungan yaitu tablet merupakan sediaan yang tahan terhadap pemasukan, bentuk sediaan yang ongkos pembuatannya paling rendah, bentuk sediaan yang paling mudah dan murah untuk di kemas serta dikirim, tablet paling mudah ditelan serta paling kecil kemungkinan tertinggal ditenggorokan, dan sebagainnya (Lachman dkk, 2008)

B.       Rumusan masaalah
1.      Apa yang dimaksud dengan tablet triturate ?
2.      Jelaskan formulasi tablet triturate ?
3.      Jelaskan cara pembuatan tablet triturate ?
4.      Apa – apa saja yang perlu diperhatikan pada  produksi, distribusi, penyimpanan, dan penggunaan tablet triturate ?
C.      Tujuan
1.      Untuk mengetahui definisi tablet triturate
2.      Untuk mengetahui formulasi ( bahan tambahan ) dalam triturat.
3.      Untuk mengetahui cara pembuatan tablet triturat
4.      Untuk mengetahui hal-hal yang harus diperhatikan pada produksi, distribusi, penyimpanan, dan penggunaan tablet triturate ?
           


BAB II
PEMBAHASAN
A.   Pengertian Tablet Triturat
Tablet merupakan sediaan padat yang biasanya dibuat secara kempa ­ cetak, berbentuk rata atau cembung rangkap, umumnya bulat, mengandung satu jenis obat atau lebih dengan penambahan bahan tambahan farmasetika yang sesuai. Kebanyakan dari tablet digunakan pada pemberian peroral, dan kebanyakan dari tablet ini dibuat dengan penambahan zat warna, zat pemberi rasa dan lapisan ­ lapisan berbagai jenis.
Tablet triturat sendiri merupakan tablet cetak atau kempa berbentuk kecil, umumnya silindris, digunakan untuk memberikan jumlah terukur yang tepat untuk peracikan obat. Tablet triturat harus cepat dan mudah larut seutuhnya didalam air. Beberapa tablet triturate biasanya digunakan untuk pemberian obat secara oral dan beberapa untuk penggunaan bawah lidah. Digunakan sebagai tablet sublingual atau dilepaskan di atas lidah dan ditelan dengan air minum. Contohnya: Supradyn, Bevitram, nitrogliserin.
B.    Formulasi Tablet
Tablet yang dibuat atau dikempa dengan siklus kompresi tunggal yang biasanya terdiri dari zat aktif sendiri atau kombinasi dengan bahan eksipien seperti:
§  Pengisi (memberi bentuk) : laktosa
§  Pengikat (memberi adhesivitas/kelekatan saat bertemu saluran pencernaan): musilago amili, amilum
§   Desintegrator (mempermudah hancurnya tablet)
Formulasi tablet cukup rumit, antara lain :
·         Beberapa zat aktif sulit dikempa menjadi kompak padat, karena sifat amorfnya, flokulasi, atau rendahnya berat jenis;
·         Zat aktif yang sulit terbasahi (hidrofob), lambat melarut, dosisnya cukup besar atau tinggi, absorbsi optimumnya tinggi melalui saluran cerna, atau kombinasi dari sifat tersebut, akan sulit untuk diformulasi (harus diformulasi sedemikian rupa);
·         Zat aktif yang rasanya pahit, tidak enak, atau bau yang tidak disenangi, atau zat aktif yang peka terhadap oksigen, atmosfer, dan kelembaban udara, memerlukan enkapsulasi sebelum dikempa. Dalam hal ini sediaan kapsul menjadi lebih baik daripada tablet.
C.    Komposisi tablet        
v   Menurut FN hal 311 Komposisi tablet :
1.    zat aktif
2.    zat tambahan :
a.       zat pengisi, dapat digunakan salah satu pengesi antara lain : laktosa, sukrosa, glukosa, lemak cokelat, susu bubuk kaolin atau bahan lain yang cocok.
b.       Zat pengembang, dapat digunakan salah satu bahan zat pengembang pati terigu, pectin agar dan bahan lain yang cocok.
c.       Zat pengikat, dapat digunakan salah satu bahan pengikat yaitu sukrosa, glokosa, pati, terigu, gelatin, gom arab atau bahan lain yang cocok.
d.      Zat pelican, dapat digunakan salah satu bahan pelican yaitu talk, asam stearat, magnesium stearat atau bahan lain yang cocok.
v   Menurut PDF hal 93-118
1.    Zat aktif
2.    Zat tambahan :
a.       Pengisi, merupakan bahan tambahan yang bersifat inet atau netral yang mana dapat mempengaruhi biofarmaseletika bahan-bahan kimia, sifat kimia dan hasil tablet.
b.      Zat pengikat dan anti adesif merupakan zat tambahan untuk memformulasi tablet yang mana membentuk masa kohesi yang kompak dari sebuah tablet.
c.       Zat penghancur, mungkin ditambahkan sebelum granulasi atau selama pencetakan atau proses kedua.
d.       Zat pelicin, misalnya asam stearat, magnesium stearat, kalsium stearat dan tak mencegah gesekan dinding partikel denagn granul.
e.        Anti aderon, merupakan zat tambahan yang digunakan dalam formulasi yang dianggap terbaik, mencegah melekatnya granul, pada dinding cetakan.
f.       Pelican, zat yang dapat memperbaiki daya granulasi dan menurunkan pergeseran dan memudahkan proses pengeluran tablet.
g.       Zat pewarna dan perasa, keuntungan member zat itu yaitu menutupi warna dan rasa yang tidak enak dan memudahkan identifikasi hasil produksi dan membuat produk lebih menarik.

C.    Cara Pembuatan Tablet Triturat
Tablet ini dibuat dengan memberikan tekanan tinggi pada serbuk atau granul menggunakan cetakan baja / pons. Umumnya tablet kempa mengandung bahan zat aktif, bahan pengisi, bahan pemngikat, desintgran dan lubrikan, dapat juga mengandung bahan pewarna dan lak yang didizinkan, bahan pengaroma dan bahan pemanis. Pada tablet triturate digunakan untuk memberikan jumlah terukur yang tepat untuk peracikan obat.
Tablet dibuat dengan cara kompresi. Secara singkat dapat dikatakan bahwa tablet yang dibuat dengan cara kompresi menggunakan mesin yang mampu menekan bahan berbentuk serbuk dan granul dengan menggunakan berbagai bentuk punch atau ukuran die. Alat kompresi tablet merupakan alat berat dari alat berat dari berbagai kapasitas dipilih sesuai dengan dasar dan jenis tablet yang dibuat serta produksi yang diinginkan. Tablet yang dicetak dibuat dengan tangan atau dengan alat mesin tangan, dengan cara menekan tablet dalam cetakan, kemudian bahan tablet yang dibentuk dikeluarkan dari cetakan dan dibiarkan sampai kering.
Tablet ini bentuknya kecil dan biasanya silinder, dibuat dengan cetakan ( MTT ) atau dibuat dengan kompressi ( CTT ), dan biasanya mengandung sejumlah kecil obat keras. Kebanyakan tablet ini  dalam industry dibuat secara kompressi tetapi dalam skala kecil dapat juga dibuat dengan cara mencetak, karena mencetak lebih mudah dan dianggap lebih murah daripada tablet dibuat dengan cara kompresi. Tablet triturate harus dapat cepat dan mudah larut seluruhnya dalam air. Sehingga bila tablet ini dibuaut dengan cara kompresi , maka tekanan atau kompressi yang diperlukan kecil. Kombinasi dari sukrosa dan laktosa biasanya dipakai sebagai bahan pengencer dan dalam formulanya selalu dihindari adanya bahan yang tidak larut dalam air. Obat yang digunakan dalam bentuk tablet ini biasanya cukup kuat dan dicampur dengan lactose dan juga pengikat seperti akasia. Campuran ini dibasahi untuk menghasilkan suatu massa yang kompak dan dapat dituang atau dicetak. Massa ini dimasukkan ke dalam lubang-lubang cetakan yang terbuat dari kayu atau plastic, sesudah itu tablet dikeluarkan dengan menggunakan keri papan pengungkit yang pengungkitnya sesuai dengan lubang-lubang pada cetakan tadi. Kemudian tablet dibiarkan kering sehingga tersedia untuk dispensing. Para ahli farmasi menggunakan tablet ini dalam mengolah campuran bahan obat untuk membuat bentuk sediaan cair atau padat lainnya. Misalnya tablet bisa dimasukkan kedalam kapsul untuk menyediakan obat keras dalam jumlah yang tepat. Oleh kareba hampir tiap obat yang dapat diberikan dalam bentuk ini telah tersedia dalam bentuk tablet jadi atau kapsul, jadi tidak perlu lagi bagi para ahli farmasi untuk membuat tablet seketika di dalam melayani keperluan orang sakit. Oleh karena dalam menyiapkan tablet cetak seperti ini umumnya ditambahkan alcohol pada masa bubuk yang akan dicetak tadi sehingga cepat kering tablet yang terbentuk, maka tablet triturasi biasanya lunak dan rapuh. Banyak obat yang digunakan dalam tablet ini sangat poten, dan obat dapat terjadi ketika alcohol menguap sehingga keseragaman kandungan obatnya sering diragukan. Karena masalah-masalah ini dan bioavailabilitas obat dari sediaan yang dibuat seketika seperti ini masih dipertanyakan, maka saat ini tablet triturasi jarang terlihat.

D.        Hal – hal yang Perlu di Perhatikan pada saat Produksi, Penyimpanan, dan Penggunaan.
            Tablet sangat baik disimpan dalam wadah yang tertutup rapat ditempat dengan kelembapan nisbi yang rendah, serta terlindung dari temperature tinggi. Tablet khusus yang cenderung hancur bila kena lembab dapat disertai pengering dalam kemasannya. Tablet yang dirusak oleh cahaya disimpan dalam wadah yang dapat menahan masuknya tablet yang disimpan secara tepat dapat stabil dalam beberapa tahun, dengan sedikit kekecualian.
            Dalam kebanyakan hal penyaluran obat, ahli farmasi diharapkan menggunakan jenis wadah yang sama yang telah dipersiapkan dalam produk – produk hasil pabrik, dan pasien dinasehati supaya memelihara obat pada produk hasil pabrik, dan pasien dinasehati supaya memelihara obat pada wadah yang diterimanya. Kondisi – kondisi penyimpanan yang tepat sebagaimana diperlukan oleh beberapa obat tertentu harus dijaga oleh ahli farmasi dan pasien serta memperhatiakan tanggal kadaluwarsanya.
            Ahli farmasi juga harus mengetahui bahwa kekerasan tablet tertentu mungkin berubah karena umurnya, biasanya mengurangi daya hancur dan laju larut dari produk tablet tersebut. Bertambah kerasnya tablet sering disebabkan oleh meningkatnya daya rekat dari bahan pengikat dan komponen formulasi lainnya dalam tablet. Contoh tablet yang bertambah keras karena umur, telah dikemukakan pada beberapa obat termasuk aluminium hidroksida, natrium salisilat dan fenil butazon. ‘
            Beberapa tablet yang mengandung bahan obat yang mudah menguap seperti nitrogliserin dapat menimbulkan kurang ratanya tablet-tablet tersebut. Tambahan lagi, bahan pengemasnya seperti kapas atau rayon bila tersentuh tablet nitrogliserin dapat mengabsorbsi nitrogliserin dengan jumlah yang berbeda-beda yang mendukung berkurangnya kekuatan tablet.
Pada tahun 1972, Food and Drug Administration menetapkan beberapa peraturan termasuk tentang kemasan, pembuatan label, dan penyaluran produk nitrogliserin. Peraturan ini meliputi :
1.      Semua tablet nitrogliserin harus dikemas dalam wadah gelas dengan tutup logam yang sesuai dan dapat diputar ( mempunyai derat ).
2.      Tiap wadah tidak boleh berisi lebih dari 100 tablet.
3.      Tablet nitrogliserin harus disalurkan dalam wadah aslinya dan pada labelnya ada tanda peringatan-“ untuk mencegah hilangnya potensi, jagalah tablet ini dalam wadah aslinya dan segera tutup kembali wadahnya setelah pemakaian. “
4.      Semua tablet nitrogliserin harus disimpan dalam ruangan dengan temperature yang diatur antara 59° - 86° F.
















TEKHNOLOGI FORMULASI SEDIAAN PADAT
“ TABLET TRITURAT “


DISUSUN OLEH :
LIA ARDYTA / F1F1 10 059
NI MADE SRI. M / F1F1 10 055
M. JUHARISMAN / F1F1 10 061

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2012





                                                                                         

Jumat, 20 April 2012

Mutiara Hidup


Sebaik-baik teman adalah yang tidak pernah berubah karena perubahan zaman. dan sebaik-baik pasangan hidup adalah dia yang selalu setia menemaninya sampai akhir ^^

Rabu, 11 April 2012

ISOLASI MIKROBA lia ardyta


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Mikroba seperti makhluk hidup lainnya memerlukan nutrisi pertumbuhan. Pengetahuan akan nutrisi pertumbuhan ini akan membantu di dalam mengkultivasi, mengisolasi dan mengidentifikasi mikroba. Mikroba memiliki karakteristik dan ciri yang berbeda-beda di dalam persyaratan pertumbuhannya. Ada mikroba yang bisa hidup hanya pada media yang mengandung sulfur dan ada pula yang tidak mampu hidup dan seterusnya. Karakteristik persyaratan pertumbuhan mikroba inilah yang menyebabkan bermacam-macamnya media penunjang pertumbuhan mikroba. Media adalah substansi yang memenuhi kebutuhan nutrisi mikroorganisme.
Populasi mikroorganisme dialam tidak terpisah menjadi spesies-spesies tersendiri, melainkan merupakan populasi campuran dari berbagai mikroorganisme atau disebut juga biakan campuran. Populasi campuran tersebut dapat dipisahkan menjadi kultur murni yang mengandung hanya satu mikroorganisme saja dilaboratorium. Teknik pemisahan tersebut dikenal sebagai teknik isolasi, gunanya untuk mempermudah pengamatan terhadap sifat-sifat setiap jenis mikroorganisme yang diinginkan.
Di dalam bidang ilmu mikrobiologi, untuk dapat menelaah bakteri khususnya dalam skala laboratorium, maka terlebih dahulu kita harus dapat menumbuhkan mereka dalam suatu biakan yang mana di dalamnya hanya terdapat baktri yang kita butuhkan tersebut tanpa adanya kontaminasi dari mikroba lain. Biakan yang semacam ini biasanya dikenal dengan istilah biakan murni. Untuk melakukan hal ini, haruslah di mengerti jenis- jenis nutrien yang disyaratkan bakteri dan juga macam ligkungan fisik yang menyediakan kondisi optimum bagi pertumbuhan bakteri tersebut.
B.     Rumusan masalah
      Rumusan masalah dalam melakukan praktikum ini adalah :
1.      bagaimana metode-metode yang dilakukan dalam memisahkan mikroba tertentu dari populasi campurannya dan mendapatkan kultur murni ?
2.      bagaimana karakteristik mikroba yang tumbuh pada kultur murni ?
C.    Tujuan
      Tujuan dalam melakukan praktikum ini adalah :
1.      Untuk mengetahui metode-metode dalam memisahkan mikroba tertentu dari populasi campurannya dan mendapatkan kultur murni.
2.      Untuk mengetahui karakteristik mikroba yang tumbuh pada kultur murni.







BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Mikroorganisme adalah sumber enzim yang paling banyak digunakan dibandingkan dengan tanaman dan hewan. Sebagai sumber enzim, mikroorganisme lebih menguntungkan karena pertumbuhannya cepat, dapat tumbuh pada substrat yang murah, lebih mudah ditingkatkan hasilnya melalui pengaturan kondisi pertumbuhan dan rekayasa genetik, serta mampu menghasilkan enzim yang ekstrim (Buckle,2003:78 ).
            Mikroorganisme dapat diperoleh dari lingkungan air, tanah, udara, suubstrat yang berupa bahan pangan, tanaman dan hewan. Jenis mikroorganismenya dapat berupa bakteri, khamir, kapng dan sebagainya. Populasi dari mikroba yang ada di linkungan ini sangatlah beraneka ragam sehinga dalam mengisolasi diperlukan beberapa tahap penanaman sehingga berhasil diperoleh koloni yang tunggal. Koloni yang tunggal ini kemudian yang akan diperbanyak untuk suatu tujuan penelitian misalnya untuk menngisolasi DNA mikroba yang dapat mendeteksi mikroba yang telah resisten terhadap suatu antibiotik. Atau untuk mengetahui mikroba yang dipakai untuk bioremediasi holokarbon (Ferdiaz, 1992:321).
Isolasi mikroba berarti memisahkan satu jenis mikroba dari biakkan campuran menjadi biakan murni. (populasi sel yang semuanya berasal dari satu sel individu). Mikroorganisme dibiakkan dilaboratorium pada bahan nutrien yang disebut medium. Banyak sekali medium yang tersedia, macamnya yang dipakai bergantung pada beberapa faktor salah satu diantaranya ialah macam organisme yang akan ditumbuhkan (Schegel, 1994 :41).
Ada beberapa metode dalam mengisolasi bakteri, fungi dan khamir (miroorganisme) yaitu dengan menggunakan metode gores, metode tuang, metode sebara, metode pengenceran serta micromanipulator. Dua diantaranya yang paling sering digunakan adalah teknik cawan dan cawan gores. Kedua metode ini berdasarkan pada prinsip yang sama yaitu mengencerkan mikroorganisme sedemikian rupa sehingga tiap individu spesies dapat dipisahkan dengan lainnya (Hadioetomo, 1993 :17).
Metode piringan tuangan (pour-plate metod) pertama kali mengadakan piaraan biasanya diperoleh dari piaraan campuran, piaraan pertama disebut primary culture dan sifatnya murni. Piaraan semacam ini dapat disimpan tetapi harus diadakan peremajaan dengan memindahkannya ke medium baru yang disebut piaraan turunan (Sub-culture) yaitu piaraan yang diperoleh dari piaraan pertama. Persyaratan utama bagi isolasi dan kultivasi fage ialah harus adanya kondisi optimum untuk pertumbuhan organisme inangnya. Sebelum diinokulasi tangan dan tempat kerja disemprot dengan alkohol dengan menggunakan metode aseptik, jarum inokulasi disterilkan dengan membakarnya, dengan api sampai jarum tersebut pijar (Irianto, 2006:87).
Kulturisasi bakteri untuk keperluan yang bermanfaat, pada umumnya dilakukan dengan biakan murni. Biakan murni hanya mengandung satu jenis. Untuk mengisolasi bakteri dalam biakan murni, umumnya digunakan dua prosedur yaitu: metode agar cawan dengan goresan dan metode agar tuang. Sebelum bakteri diinokulasi, tangan dan tempat kerja disemprot dengan alkohol dengan menggunakan metode aseptik, jarum inokulasi disterilkan dengan membakarnya, dengan api sampai jarum tersebut pijar (Volk, 1993:98).
Medium pertumbuhan mikroba adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran nutrient yang diperlukan mikroba untuk pertumbuhannya. Dengan menggunakan medium pertumbuhan, aktivitas mikroba dapat dipelajari dandengan medium tumbuh dapat dilakukan isolasi mikroba menjadi kultur murni, perbanyakan, pengujian sifat fisiologis, dan perhitungan jumlah mikroba (Pelczar,1986 :51).













B. Pembahasan
Ada beberapa metode dalam mengisolasi mikroba bakteri, fungi dankhamir (mikroorganisme) yaitu dengan menggunakan metode gores, metode tuang, metode sebar. Pada praktikum ini teknik yang digunakan adalah  teknik  cawan gores. Metode ini didasarkan pada prinsip yang sama yaitu mengencerkan organisme sedemikian rupa sehingga tiap individu spesies dapat dipisahkan dengan lainnya.
Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari metode yang digunakan untuk memisahkan mikroba dari populasi campurannya untuk mendapatkan kultur murni, dan bisa mengetahui karakteristik mikroba yang tumbuh apad kultur murni. Sampel yang digunakan untuk mendapatkan mikroba adalah sampel somay, es kelapa dan pangsit. Sedangkan sampel air yang digunakan adalah aquades. Dilakukan serangkaian pengenceran pada sampel untuk mengisolasi bakteri dari beberapa sampel (Somay, pangsit dan es kelapa)  yang mudah tersuspensi atau terlarut atau zat cair. Pengenceran dilakukan dengan suatu sampel dari suatu suspense yang berupa campuran diencerkan dalam suatu tabung tersendiri secara berkelanjutan dari suatu tabung ke tabung lain. Pengenceran ini bertujuan untuk mempermudah dalam perhitungan dalam jumlah koloni mikroba yang tumbuh, baik warna maupun karakteristik lainnya.
Dari hasil praktikum dapat diketahui bahwa bentuk, tepian,warna dan elevasi dari bakteri dan fungi. Untuk bakteri, bentuknya ada yang bundar, rizoid,tidak beraturan dan menyebar dengan yang tepian siliat, berlekuk, bercabang, berombak dan licin. Warna yang dapat dilihat dari koloni bakteri pada beberapa sampel  ini adalah bervariasi, diantaranya ada yang berwarna keruh, putih dan ada juga yang bening. Akan tetapi terdapat sekitar dua sampelair yang tidak terkontaminasi oleh bakteri.
Menurut data SNI ( Standar Nasional Indonesia ) pada batasan maksimum cemaran mikroba dalam pangan, pada somay dan es batas maksimum cemaran mikrobanya yaitu 1 x 10 4 koloni/gram. Sedangkan hasil yang didapat melebihi batas maksimum yaitu pada somay pada media Na 1x106 CFU/g dan pada PCA 5x106 CFU/g, kemudian  pada es kelapa muda didapatkan Na 2x106 CFU/g. sedangkan pada standar Mie yaitu 1x106 dan hasil yang didapat juga melebihi standar yaitu pada media PCA 54x106 CFU/g dan pada media Na dan PDA berturut-turut 124x106 dan 108x106. Hal ini menunjukkan bahwa makanan tersebut tidak layak dikonsumsi oleh masyarakat karena cemaran mikrobanya cukup banyak dan dapat menyebabkan penyakit pada manusia yang mengkonsusinya. Didapatkannya hasil diatas yang melebihi SNI kemungkinan terjadi beberapa factor, yaitu mungkin pada saat pengenceran telah terkontaminasi dan bisa saja alat-alat yang digunakan kurang steril dilaboratorium.
Di alam bebas tidak ada bakteri yang hidup sendiri terlepas dari spesies lainnya. Di laboratorium, supaya kita hanya mendapat satu spesies saja dalam suatu biakan campuran menjadi biakan murni memerlukan teknik-teknik untuk mengisolasi. Populasi campuran menjadi satu populasi sel. Biakan murni adalah biakan yang hanya terdiri dari satu populasi jenis mikroba yang semuanya berasal dari satu sel induk. Isolasi bakteri artinya memisahkan satu jenis bakteri dari biakan campuran menjadi biakan murni. Untuk mengisolasi suatu spesies dikenal beberapa cara, yaitu : cara cawan gores, cara cawan tuang dan cara cawan sebar.
Pada praktikum ini juga, ada beberapa metode yang dilakukan dalam pengisolasian mikroba, yaitu isolasi pada agar cawan, dan isolasi pada medium cair. Pada isolasi agar cawan dengan prinsip mengencerkan mikroorganisme sehingga diperoleh individu spesies yang dapat dipisahkan dari organisme lainnya. Setiap koloni yang terpisah yang tampak pada cawan tersebut setelah inkubasi berasal dari satu sel tunggal. Terdapat beberapa cara dalam metode isolasi pada agar cawan, yaitu: Metode gores kuadran, dan metode agar cawan tuang dan Metode gores kuadran. Bila metode ini dilakukan dengan baik akan menghasilkan terisolasinya mikroorganisme, dimana setiap koloni berasal dari satusel. Metode isolasi pada medium cair kita dilakukan bila mikroorganisme tidak dapat tumbuh pada agar cawan (medium padat), tetapi hanya dapat tumbuh pada kultur cair. Metode ini juga perlu dilakukan pengenceran dengan beberapa serial pengenceran. Jika semakin tinggi pengenceran yang dilakukan  maka peluang untuk mendapatkan satu sel semakin besar.
Koloni-koloni yang telah ditemukan pada masing-masing medium kemudian diidentifikasikan morfologinya yaitu bentuk luar, warna, struktur dalam koloni, tepi koloni, elevasi serta jumlah koloninya. Pada masing-masing media sendiri terdapat keanekaragaman dalam morfologi tersebut.
Koloni bakteri dapat dengan mudah dibedakan dari koloni lainnya dengan adanya penampakan umum berupa lender dan agak mengkilap. Bakteri adalah salah satu contoh mikroorganisme yang penting dan memiliki bentuk yang beragam. Pada umumnya bakteri berhubungan dengan makanan. Adanya bakteri dalam bahan pangan dapat mengakibatkan pembusukan yang tidak diinginkan atau menimbulkan penyakit yang ditularkan melalui makanan atau dapat melangsungkan fermentasi yang menguntungkan.
Sifat-sifat koloni pada agar-agar lempengan mengenai bentuk, permukaan dan tepi. Sedangkan sifat-sifat koloni pada agar-agar miring berisikan pada bentuk dan tepi koloni. Jamur merupakan salah satu anggota dari fungi. Kadang pertumbuhannya pada makanan mudah dilihat karena tampak berserabut seperti kapas. Mula-mula berwarna putih à jika sudah ada spora à terbentuk warna (tergantung jenis jamurnya). Ada tiga macam morfologi hifa, yaitu :
aseptat atau senosit, Septat dengan sel-sel uninukleat, septat dengan sel-sel multinukleat.
Kontaminasi dalam praktikum isolasi dan pemurnian mikroba dapat mungkin terjadi jika kondisi dari alat, bahan maupun praktikan tidak steril. Oleh karena itu dalam setiap prosedur kerja, baik saat pengenceran ataupun saat menyebar mikroba ke dalam medium perlu kehati-hatian agar tidak terjadi kontaminasi yang dapat merusak hasil percobaan.
Kultur murni atau biakkan murni sangat berguna didalam mikrobiologi yaitu untuk menelaah dan mengidentifikasi mikroorganisme, termasuk penelaahan ciri-ciri kultural, morfologis, fisiologis maupun serologis, memerlukan suatu populasi yang terdiri dari satu macam mikroorganisme











BAB V
PENUTUP
A.    Simpulan
1.    Teknik isolasi mikroba yang dilakukan menggunakan metode kuadran untuk mendapatkan biakan murni
2.     Sebelum diisolasi biakan bakteri berbentuk irregular, bertepi undulate, elevation convex, berwarna cream dan berlendir. Hasil yang diperoleh juga sama dengan bakteri sebelum diisolasi.
B.     Saran
Dalam pengerjaan isolasi dan pemurnian mikroba ini harus benar-benar steril sehingga tidak tejadi kontaminasi dan kerusakan media dan dan didapatkan kultur murni sesuai diinginkan.










DAFTAR PUSTAKA
Schegel, H., 1994. Mikrobiologi Umum. UGM-Press. Yogyakarta.

Buckle, K.A. 1987. Ilmu Pangan. Universitas Indonesia. Jakarta
Fardiaz, S. 1992.Mikrobiologi Pangan I . PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Hadioetomo,R.S.1993 .Mikrobiologi Dasar dalam Praktek : Teknik dan Prosedur        Dasar dalam Praktek. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Pelczar,M.J dan E.C.S Chan. 1986.Dasar-dasar Mikrobiologi. Universitas        Indonesia Press. Jakarta

Irianto, K. 2006. Mikrobiologi Menguak Dunia Mikroorganisme. CV. Yrama Widya. Bandung.

Volk & Wheeler. 1993. Mikrobiologi Dasar. Erlangga. Jakarta






















PERCOBAAN VI
“PENANAMAN DAN ISOLASI MIKROBA”
O L E H :

NAMA                               : LIA ARDYTA
NIM                                   : F1F1 10 059
KELOMPOK                   : I ( SATU )
PRODY                             : FARMASI
AS. PEMBIMBING         : ANGGRAENI PUSVITA,  S.Si

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2012

BAB III
METODE PRAKTIKUM
A.    Waktu dan tempat
         Praktikum ini dilaksanakana pada hari kamis tanggal 29 maret – 2 april 2012 bertempat dilaboratorium Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Haluoleo, Kendari.
B.     Alat dan bahan
1.      Alat
        Alat yang digunakan dalam praktikum penanaman dan isolasi mikroba dapat dilihat pada tabel :
Tabel 1 : Alat yang digunakan beserta fungsi
No
Nama alat
Fungsi
1
Lampu Spiritus
Untuk sterilisasi secara fisik dan untuk memijarkan ose
2
Jarum inokulasi
Untuk mengambil mikroorganisme yang tumbuh pada medium
3
Cawan petri
Sebagai wafah yang dipakai untuk menumbuhkan mikroba dan tempat untuk agar cawan
4
Tabung reaksi
Sebagai wadah untuk menumbuhkan mikroba
5
Incubator
Sebagai tempat menginkubasi media
6
Mikro pipet/pipet volume
Untuk meindahkan larutan pada volume tertentu
7
Botol ampul
Sebagai wadah aquades yang telah disterilkan
8
Laminar air flow
Sebagai tempat kerja yang memungkinkan tidak terjadinya kontaminasi dengan lingkungan luar
9
Ose bulat
Untuk menggores pada permukaan medium yang telah ditumbuhi mikroorganisme

2.      Bahan